Muhammad Menghancurkan Pernikahan Zaid

Image


Zaid dan Zainab. Pinjem gambarnya bentar ya.



Melalui tafsir Qur’an-nya, Thabari menjelaskan bahwa Muhammad meminta Zainab untuk menikah dengan putra angkat Muhammad yakni Zaid bin Haritsa. Zainab menolak keras sambil marah2. Guna memaksa Zainab untuk menurut, maka Allah membantu Muhammad dengan menurunkan Q 33:36. Zainab tak bisa melawan lagi dan terpaksa tunduk pada kemauan Muhammad.

Image

Image
Image
Image

Kita pikir mungkin kisahnya selesai sampai di sini. Tapi ternyata tidak begitu …



Kisah pernikahan Zaid dan Zainab bersambung ke ayat berikutnya, yakni Q 33:37. Disini, Thabari menjelaskan bahwa setelah menikahkan secara paksa Zainab dengan Zaid, ternyata Muhammad lalu jatuh cinta pada Zainab, yang bukan hanya adalah istri orang lain, tapi juga menantunya sendiri, dan istri putra angkatnya. Untuk lengkapnya, silakan baca sendiri keterangan Thabari.

Image
Image
Image
Image

Hanya dengan perbedaan satu ayat saja, Zainab harus berganti suami dengan cepatnya. Ini bagaikan kemaren dia menikah dan ngesex dengan Zaid, tapi keesokan harinya dia harus menikah dan ngesex dengan mertuanya sendiri. Gila, bukan?

Image
Yang lebih gila lagi, ternyata Muhammad sendirilah yang menghancurkan pernikahan Zaid dan Zainab, dengan tingkahnya yang tertarik secara sexual terhadap Zainab, menantunya sendiri. Thabari menjelaskan hal ini sebagai berikut (perhatikan keterangan dalam kotak kuning):

Image

Ternyata Zaid tidak suka dengan sikap Muhammad yang tertarik pada istrinya. Dia pun tak suka dengan sikap Zainab yang malahan bangga karena mertuanya berahi terhadap dirinya. Suami mana yang tak muak pada sikap istri seperti itu? Karena itulah Zaid akhirnya menceraikannya.

Apakah yang didapat Zaid dari semua ini?
Jawabannya adalah:

1. Pernikahan Zaid bin Muhammad hancur berantakan;
2. Zaid bin Muhammad kehilangan istrinya yang cantik jelita, gara2 diembat sendiri oleh bapak angkatnya;
3. Bapak angkatnya (Muhammad) tidak lagi menganggapnya sebagai anak kandung, dan Muhammad menurunkan Q 33:5 yang menyuruh seluruh umat Muslim membatalkan memanggil anak angkat dengan nama keluarga sendiri. Karena Q 33:5, maka nama Zaid bin Muhammad diganti jadi Zaid bin Haritsa. Ini jelas turun pangkat yang sangat merugikan kedudukan Zaid.


Qur’an, Surat Al-Ahzaab, ayat 5
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Zaid menerima semuanya ini. Memang tak ada literatur Islam yang menjelaskan bagaimana perasaan Zaid menghadapi semua ini. Tapi sebagai manusia, kita bisa membayangkan bahwa dia tentunya sangat tersinggung, terluka, dan terhina. Istrinya hilang, pernikahannya hancur berantakan, kedudukannya sebagai putra pemimpin umat Muslim dicabut. Tak ada seorang pun manusia yang merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh ayah angkatnya sendiri.

Muhammad tentunya tahu akan perasaan Zaid, yang menjadi bagaikan duri bagi dirinya. Bisikan orang2 bahwa dia “mencuri istri orang/anak angkat sendiri” ternyata tidak bisa hilang, tak peduli berapapun banyaknya ayat2 Qur’an yang telah diucapkan. Aib seperti itu memang tak akan pernah hilang. Karena itu, Muhammad merencanakan cara untuk menyingkirkan Zaid untuk selamanya. Pada tahun 8 H/629 M, Muhammad memerintahkan Zaid bin Haritsa untuk memimpin pasukan Muslim menyerang pasukan Byzantium yang begitu kuat di Mu’tah, Syam (Syria). Muhammad tahu pasukan Muslim Zaid yang hanya berjumlah 3.000, tidak akan mampu memenangkan perang melawan pasukan raksasa Byzantium yang berjumlah 100.000. Ini merupakan kesempatan bagus bagi Muhammad untuk membunuh Zaid secara tak langsung, dan menghilangkan aib “mencuri istri orang/anak angkat sendiri.” Mana mungkin 3.000 tentara garong bisa menghadapi 100.000 tentara profesional?

Zaid bin Haritsa memang akhirnya mati ditombak musuh sampai tubuhnya terbelah. Banyak korban berjatuhan di pihak Muslim, sehingga tentunya kematian Zaid tidak menimbulkan kecurigaan apapun pada Muhammad. Tapi kita semua tahu bahwa Muhammad adalah orang yang penuh tipu muslihat dan tega melakukan apapun untuk melampiaskan nafsunya. Ketika berita gugurnya Zaid dan balatentara Muslim sampai kepada Muhammad, dia berpura-pura menangis air mata buaya dan menyatakan mereka semua mati syahid. Mission accomplished for Muhammad. Dia telah sukses menyingkirkan Zaid dan tetap tampak sebagai Nabi suci di mata umat Muslim. Tapi di mata para kafir yang tajam menusuk, dosanya tampak begitu nyata, tebal menyelimuti seluruh tubuhnya, dan berbau busuk.
Apa sih tujuan dari Q 33:37 sebenarnya?
Thabari menerangkannya sebagai berikut:

Image

Berdasarkan keterangan Thabari di atas, Q 33:37 diturunkan agar Muslim tak ragu menikahi istri anak-angkat mereka, setelah diceraikan. Pesan ini sungguh janggal, aneh, dan tak masuk akal, bahkan bagi Muslim yang beriman Islam sekalipun. Sampai detik ini tiada Muslim yang tega melakukan sunnah Nabi menikahi istri anak-angkat sendiri, meskipun sudah diceraikan sekalipun. Meskipun tidak mau mengakui secara terus-terang, umat Muslim tidak mau aib seperti ini terulang kembali dalam kehidupan mereka, sehingga mereka akhirnya malah enggan melanjutkan tradisi adopsi sama sekali.

Sejak itulah, umat Muslim tidak lagi memungut anak dan memperlakukannya sebagai anak kandung sendiri, dalam pengertian (1) tiada pembagian warisan, (2) tiada pemberian nama keluarga, dan (3) tiada pengakuan resmi sebagai anggota keluarga.

Read More

Posted on 8 July 2011, in moral and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: