SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 2

Halaman 1

Bab 129

Perang Bani Sulaim Di Al-Kudri


Ibnu Ishaq berkata, “Setibanya di Madinah dari Perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya menetap tujuh hari di dalamnya, karena setelah itu, beliau berangkat memerangi Bani Sulaim.”

Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat Siba’ bin Urafthah Al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di salah satu mata air Bani Sulaim yang bernama Al-Kudri, beliau bermukim di sana selama tiga hari, kemudian pulang ke Madinah karena tidak mendapatkan perlawanan dari mereka. Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah selama sisa bulan Syawwal dan bulan Dzulqa’dah. Dalam jangka waktu dua bulan tersebut, sebagian besar tawanan Quraisy ditebus.”


—ooOoo—

=========================================================================================================
Halaman 2

Bab 130
Perang As-Sawiq (Tepung)


Sebab-sebab Terjadinya Perang As-Sawiq (Tepung)

Abu Muhammad bin Abdul Malik bin Hisyam berkata bahwa Ziyad bin Abdullah bin Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththalibi yang berkata, “Pada bulan Dzulhijjah, Abu Sufyan bin Harb berangkat dari Makkah ke Perang As-Sawiq (Tepung).”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, Yazid bin Ruman, dan orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik – orang Anshar yang paling pandai – , “Ketika Abu Sufyan bin Harb tiba di Makkah dan dalam waktu yang bersamaan orang-orang Quraisy lari dari Badar dalam keadaan morat-marit, maka ia bernadzar tidak akan menggauli istrinya hingga ia menyerang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, pada suatu hari, ia keluar dari Makkah dengan dua ratus tetara Quraisy untuk mewujudkan nadzarnya. Abu Sufyan bin Harb berjalan melewati tanah tinggi yang sulit, hingga tiba di depan kanal (terusan) menuju Gunung Tsaib yang berjarak kurang lebih 12 mil dari Madinah.

Pada suatu malam di tengah malam yang gelap, Abu Sufyan bin Harb pergi ke Bani An-Nadhir. Ia tiba di rumah Huyai bin Akhthab dan mengetuk pintu rumahnya, namun Huyai bin Akhthab menolak membuka pintu rumah untuk Abu Sufyan bin Harb, karena takut kepadanya. Kemudian Abu Sufyan bin Harb beralih pergi ke rumah Sallam bin Misykam. Sallam bin Misykam adalah tokoh berpengaruh Bani An-Nadhir dan penjaga asset mereka. Abu Sufyan bin Harb meminta Sallam bin Misykam mengizinkan dirinya masuk rumah dan Sallam bin Misykam mengizinkannya. Sallam bin Misykam menjamu Abu Sufyan dan memberi banyak informasi kepadanya. Pada akhir malam, Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumah Sallam bin Misykam ke tempat sahabat-sahabatnya, kemudian ia kirim beberapa anak buahnya ke Madinah. Anak buah Abu Sufyan bin Harb tersebut tiba di Al-Uraidh kemudian membakar perkebunan kurma di sana. Di Al-Uraidh, mereka bertemu salah seorang Anshar dan sekutunya yang sedang bekerja di sawah, kemudian mereka membunuh keduanya. Setelah itu, mereka pulang ke tempat mereka semula, namun beberapa orang mencium kedatangan mereka.”
==========================================================================================================
Halaman 3

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Keluar dari Madinah untuk Perang

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk mengejar orang-orang Quraisy tersebut hingga tiba di tanah rendah Al-Kudri, kemudian meninggalkannya, karena tidak bias mengejar Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya. Di Al-Kudri, para sahabat menemukan perbekalan orang-orang Quraisy yang dibuang di sawah untuk meringankan pelarian mereka. Ketika para sahabat pulang ke Madinah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan perang untuk kita?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Ya’.”

Ibnu Hisyam berkata, “Selama kepergian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Perang As-Sawiq (Tepung), beliau menunjuk Basyir bin Abdul Mundzir yang tidak lain adalah Abu Lubabah sebagai imam sementara di Madinah.”

Latar Belakang Penamaan Perang As-Sawiq (Tepung)

Ibnu Ishaq berkata, “Dinamakan Perang As-Sawiq (Tepung), karena sebagian besar perbekalan yang dibuang orang-orang Quraisy adalah tepung, kemudian kaum Muslimin mengambil tepung mereka yang banyak itu. Oleh karena itu, perang tersebut dinamakan Perang As-Sawiq (Tepung).”

Abu Sufyan bin Harb Memuji Sallam bin Misykam

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumah Sallam bin Misykam dan melihat sambutan hangat Sallam bin Misykam terhadap dirinya, ia berkata,


    ‘Sesungguhnya aku memilih salah seorang di Madinah, karena adanya persekutuan
    Aku tidak menyesal dan tidak mencelanya
    Aku diberi minum hingga aku puas dengan minuman keras Kumait dan Mudamah
    Oleh Sallam bin Misykam
    Ketika pasukan telah pulang, aku berkata, ‘Aku tidak ingin merasa bahagia,
    Bergembiralah dengan perang dan rampasan perang’.”

—ooOoo—

=========================================================================================================
Halaman 4

Bab 131
Perang Dzi Amar

Ibnu Ishaq berkata, “Sepulangnya dari Perang As-Sawiq (Tepung), Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Madinah di sisa bulan Dzulhijjah atau hamper sebulan, kemudian pergi ke Najed untuk memerangi Ghathafan. Itulah Perang Dzi Amar.”

Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Utsman bin Affan sebagai imam sementara di Madinah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Selama bulan Shafar atau hampir sebulan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di Najed, kemudian pulang ke Madinah, karena tidak mendapat perlawanan. Beliau menghabiskan sisa bulan Rabiul Awwal atau sedikit bulan Rabiul Awwal di Madinah.”

—ooOoo—
=============================================================================================================
Halaman 5


Bab 132
Perang Al-Furu’ Di Buhran

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat untuk memerangi orang-orang Quraisy.”

Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Ummu Maktum sebagai imam sementara di Madinah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di Bahran, sebuah pertambangan di Hijaz dari arah Desa Al-Furu’. Beliau berada di sana selama bulan Rabiul Akhir dan Jumadil Ula, kemudian pulang di Madinah, karena tidak mendapatkan perlawanan.”


—ooOoo—

=========================================================================================================
Halaman 6

BAB 133
PERIHAL BANI QAINUQA’


[justify]Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengajak Orang-orang Yahudi Masuk Islam di Pasar Bani Qainuqa’

Ibnu Ishaq berkata, “Di sela-sela perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di atas, terjadilah kasus Bani Qainuqa’. Kasus Bani Qainuqa’ ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa’ kemudian bersabda kepada mereka, ‘Hai seluruh orang-orang Yahudi, takutlah allah menurunkan hukuman seperti yang Dia turunkan kepada orang-orang Quraisy dan masuk Islamlah kalian, karena kalian telah mengetahui bahwa aku Nabi yang diutus. Ini dan perjanjian Allah kepada kalian telah kalian dapati di kitab kalian.’ Orang-orang Yahudi berkata, ‘Hai Muhammad, apakah engkau kira kami lemah hingga engkau dapat mengalahkan kami dengan mudah? Engkau jangan sok kuat! Engkau hanya menghadapi kaum yang tidak mempunyai pengetahuan tentang perang sedikit pun. Oleh karena itu, tidak heran kalau engkau menang atas mereka. Demi Allah, jika kami memerangimu, engkau pasti tahu bahwa kami manusia terkuat’.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa mantan budak keluarga Bani Yazid bin Tsabit berkata kepadaku dari Said bin Jubair atau dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang orang-orang Yahudi tersebut,


    ‘Katakanlah kepada orang-orang kafir, ‘Kalian pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke neraka Jahannam dan itulah tempat…

========================================================================================================
Halaman 7


    …yang paling buruk.’ Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang bertemu (bertempur); segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya; sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati’.” (Ali-Imran: 12-14)

Yang dimaksud dengan dua golongan pada ayat di atas ialah sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang Quraisy yang bertemu di Perang Badar.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Bani Qainuqa’ adalah pemukim Yahudi pertama yang membatalkan perjanjiannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berperang melawan beliau setelah Perang Badar dan sebulan sebelum Perang Uhud.

Sebab Perang Bani Qainuqa’

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Ja’far bin Al-Miswar bin Makhramah berkata dari Abu Aun yang berkata, “Sebab Perang Bani Qainuqa’ ialah seorang wanita Arab datang membawa barang untuk dijual di Pasar Bani Qainuqa’ kemudian duduk bersebelahan dengan tukang emas dan perak. Orang-orang Yahudi meminta wanita Arab tersebut membuka wajahnya, tapi ia bersikukuh menolak mengabulkan permintaan mereka. Tukang emas dan perak mendekat ke ujung pakaian wanita Arab tersebut dan mengikatkannya ke punggung wanita Arab tersebut. Ketika wanita Arab tersebut berdiri, terbukalah auratnya dan orang-orang Yahudi pun tertawa terpingkal-pingkal karenanya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, wanita Arab tersebut berteriak keras, kemudian salah seorang dari kaum Muslim meloncat ke tukang emas dan perak yang Yahudi itu dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya tidak tinggal diam. Mereka menarik orang Muslim tersebut dan membunuhnya. Karena kejadian tersebut, keluarga orang Muslim yang terbunuh berteriak memanggil kaum Muslimin sembari menyebutkan ulah orang-orang Yahudi. Kaum Muslimin pun marah besar kemudian terjadilah perang antara mereka melawan orang-orang Yahudi.

Pengepungan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Bani Qainuqa’

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengepung orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ hingga mereka menerima keputusan beliau.
=========================================================================================================
Halaman 8

Abdullah bin Ubai bin Salul–ketika Allah memberinya kedudukan di atas orang-orang Yahudi–menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku –mereka adalah sekutu Al-Khazraj–. ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diam tidak memberi jawaban hingga Abdullah bin Ubai bin Salul berkata ununtuk kedua kalinya, ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memalingkan muka dari Abdullah bin Ubai bin Salul, kemudian Abdullah bin Ubai bin Salul memasukkan tangannya ke saku baju besi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.(JGA: Apa Muhammad menerima suap??) :green:

Ibnu Hisyam berkata, “Baju besi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bernama Dzatu Al-Fudzul.”

Pertemuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Abdullah bin Ubai bin Salul

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Abdullah bin Ubai bin Salul, ‘Kirim mereka kepadaku!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam marah hingga wajah beliau menghitam karena ucapan dan perbuatan Abdullah bin Ubai bin Salul. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda lagi, ‘Celakalah engkau, kirim mereka kepadaku! Abdullah bin Ubai bin Salul berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengirimkan mereka kepadamu hingga engkau berbuat baik kepada para pengikutku, yaitu empat ratus tentara tanpa baju besi dan tiga ratus tentara berbaju besi yang telah melindungiku dari orang-orang berkulit merah dan orang-orang negro, namun engkau bunuh mereka di satu pagi. Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut malapetaka.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Mereka menjadi milikmu’.”

Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengepung orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’, beliau mengangkat Basyir bin Abdul Mundzir sebagai imam sementara di Madinah. Beliau mengepung mereka selama lima belas malam.

Ibnu Ishaq berkata bawa Abu Ishaq bin Yassar berkata kepadaku dari Ubadah bin Al-Walid bin Ubadah bin Ash-Shamit yang berkata, “Ketika Bani Qainuqa’ memerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka menyerahkan urusan mereka kepada Abdullah bin Ubai bin Salul karena dialah pemimpin mereka. Di sisi lain, Ubadah bin Ash-Shamit menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam –Ubadah bin Ash-Shamit adalah warga Bani Auf dan mempunyai persekutuan dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ sebagaimana mereka mempunyai persekutuan dengan Abdullah bin Ubai bin Salul. Ubadah bin Ash-Shamit mencabut persekutuan dengan mereka dan memberikannya…
=========================================================================================================
Halaman 9

kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ia berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari persekutuan dengan mereka –kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku berpihak kepada Allah, Rasul-Nya, kaum Mukminin, berlepas diri dari persekutuan mereka, dan tidak loyal kepada mereka.’ Tentang Ubadah bin Ash-Shamit dan Abdullah bin Ubai bin Salul turun ayat berikut,


    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit di hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan, ‘Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh…
=========================================================================================================
Halaman 10


    …dengan nama Allah bahwa mereka benar-benar beserta kalian?’ Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 51-55).

Contoh orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit yang disebutkan ayat di atas ialah Abdullah bin Ubai bin Salul yang berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut malapetaka.”


—ooOoo—

Read More

Posted on 24 July 2011, in biografi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: